Berfikir Out of The Box
Di sela makan siang waktu survey SIBADES kemarin, saya dan teman-teman berbincang-bincang. Topiknya adalah berpikir Out of The Box. Pertama si Icang memberi contoh kasus:
Ada orang yang mau naik ke lantai 10 di sebuah gedung bertingkat. Pilihannya adalah menggunakan lift agar lebih cepat dan menghemat energi. Namun, orang tersebut turun di lantai 8. Mengapa?
Kami semua mencoba menganalisis. Di antara kami menjawab karena lift-nya hanya sampai lantai 8, sehingga orang tersebut harus turun di lantai 8 dan melanjutkan dengan tangga. Namun jawaban tersebut kurang tepat.
Ternyata jawaban yang paling tepat dan out of the box adalah:
Orang tersebut pendek, sehingga tangannya gak mampu meraih tombol 10 pada lift yang terletak cukup atas.
Jawaban yang bisa diterima, karena alasannya cukup jelas.
Contoh kasus yang kedua, masih diberikan oleh Icang adalah sbb:
Di suatu kerjaaan, Sang Raja melarang seluruh warganya untuk memiliki kumis dan jenggot. Jika tidak menuruti perintah tsb, maka warga dibunuh. Dan karena keterbatasan kemampuan, di kerajaan tersebut hanya ada satu orang tukang cukur. Pertanyaannya, gimana kalau sang tukang cukur jenggotan atau kumisan, sedangkan dia tidak bisa mencukur sendiri?
Luhut, seorang teman saya langsung menjawab:
Ya kalau begitu tukang cukurnya ngajarin orang lain aja biar bisa nyukur juga!
Namun jawaban tersebut kurang tepat.
Karena kami kehabisan ide, Icang pun memberi jawabannya:
Ya mudah saja, tinggal cari tukang cukur yang perempuan! *dengan nada meyakinkan*
Tapi terus kami gak semudah itu menerima, Rafi dan Ivan mengelak dengan alasan jika perempuan berhormon testosteron berlebih juga pasti punya kumis :P hihihihi..
Nah, yang paling lucu dari berpikiran out of the box adalah contoh atau sebenarnya curhat yang diutarakan Luhut. Begini ceritanya:
Awak lagi suka sama perempuan, tapi sayangnya perempuan itu udah punya cowok. Tapi awak yakin, kan saingannya cuma satu, si cowok itu. Coba kalo dia jomblo, kan saingan awak jadi banyak!
HAHAHAHA!
1 month ago · 5 notes